Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Agustus 2010

10 CIRI GURU PROFESIONAL

1. Selalu punya energi untuk siswanya
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, facebook/twitter.

6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

7. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.

10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

Kamis, 12 Agustus 2010

MENGAJAR DENGAN HATI

SAYA berharap kolom ini bisa menjadi tip bagi guru atau praktisi pe ndidikan, tapi sesungguhnya juga bagi kita semua, bahwa komunikasi akan efektif kalau dilakukan dengan sepenuh hati.
Artinya, hatinya penuh dengan ketulusan dan kesungguhan. Pekerjaan apa pun yang tidak menyertakan hati akan terasa hambar. Hati ini di sini memiliki konotasi positif,hati yang bening sesuai dengan kodratnya. Bagi seorang guru, ketika datang ke sekolah setidaknya mesti memiliki tiga bekal primer. Pertama, mesti siap dengan materi yang akan diajarkan. Tanpa kesiapan dan penguasaan materi, apa yang hendak disampaikan kepada siswa? Ini juga berlaku bagi seorang dosen.

Terlebih ketika menghadapi siswa atau mahasiswa yang kritis,guru atau dosen yang miskin penguasaan materi pasti akan ketahuan dan menurunkan wibawanya di depan kelas. Guru atau dosen yang baik tak kalah rajin belajarnya ketimbang siswa atau mahasiswanya. Hanya saja cara belajarnya berbeda. Namun, prinsipnya, guru atau dosen yang berhenti belajar berarti dia juga harus berhenti mengajar.
Hubungan guru-murid jauh berbeda dari hubungan antara montir dan kendaraan rusak yang hendak diperbaiki.Sehebat-hebat dan semahal-mahal harga mobil mutakhir,tak akan mampu mengalahkan kepintaran montirnya sekalipun gajinya rendah karena mobil adalah benda mati, tidak tumbuh dan tidak berkembang. Namun,yang dihadapi seorang guru adalah anak-anak dengan potensi besar dan bakat berbedabeda.
Anak-anak datang dengan mimpi, cita-cita besar, dan membawa harapan orang tuanya untuk membangun masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu seorang guru, termasuk orang tua,mesti menjadi pendengar dan pemerhati yang baik bagi anak-anak. Mesti selalu menambah wawasan tentang perkembangan psikologi anak dan berbagai temuan metode yang baru dan cocok untuk diterapkan pada anak-anak. Bekal kedua bagi seorang guru ketika masuk kelas adalah keterampilan menerapkan metode pembelajaran yang tepat, efektif, dan menyenangkan.
Saya sendiri punya pengalaman, pernah memperoleh seorang dosen yang ilmunya dalam dan luas dalam mata kuliah yang dipegang, tetapi mengajarnya kurang efektif. Tidak menarik dan tidak efisien. Miskin dalam aspek metodenya.Jadi guru yang baik bukan saja yang menguasai materi ajar, tapi tak kalah penting adalah metode pengajarannya tepat sehingga anakanak akan senang menerimanya.
Dalam sebuah penelitian psikologi pembelajaran disebutkan,jika suasana belajar menyenangkan, daya serap anak akan meningkat, bahkan berlipat.Coba saja perhatikan, belajar bahasa sambil menyanyi hasilnya akan lebih baik ketimbang model hafalan yang menjemukan. Ini berlaku terutama bagi anak-anak.Anak-anak biasanya lebih cepat pintar diajar guru privatprofesional ketimbang diajar orang tua sendiri yang mudah marahmarah tidak sabaran.
Dalam suasana bosan dan tegang, otak akan menciut,daya serapnya sedikit. Berdasarkan prinsip di atas, maka terkenal konsep joyful learning. Sebuah pembelajaran yang menyenangkan, tetapi bukan berarti santai, tidak serius.Yang ditekankan adalah metodenya menyenangkan agar materi yang telah disiapkan terserap secara optimal. Sejalan dengan konsep ini, ruang kelas pun hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga terasa indah dan nyaman.
Ruang kelas yang semrawut dan warna cat temboknya kusam akan memengaruhi pikiran dan hati siswa juga ikut semrawut. Bekal ketiga, di samping penguasaan materi dan metode,adalah kesiapan mental berupa cinta kepada anak-anak. Seorang guru yang baik ketika masuk ruang kelas mesti dengan hati. Dengan energi dan vibrasi cinta kepada anak-anak. Mengajar tanpa hati akan terasa hambar. Anak-anak pun tidak akan mendengarkan dengan hati.
Kita semua pasti punya pengalaman, guru-guru yang mengajar dengan hati pasti kesannya akan lebih mendalam sekalipun telah berlalu puluhan tahun. Oleh karena itu,pandai-pandailah mengatur dan menjaga hati. Ketika dari rumah atau di jalanan muncul rasa kesal,misalnya,maka ketika kaki menginjak halaman sekolah mesti mampu menata hati agar rasa kesal itu tidak terbawa masuk ruangan kelas. Mengajar dengan hati kesal pengaruhnya akan dirasakan langsung oleh anak-anak.
Akan dirasakan oleh teman-teman sejawat. Pengaruhnya akan terlihat pada air mukanya, pada tutur katanya, dan pada perilakunya yang ujungnya proses dan suasana pembelajaran tidak efektif. Oleh karena itu, penting sekali seorang guru memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dan psikologi komunikasi. Bahwa dalam komunikasi yang berlangsung tidak sekadar tukar-menukar kata dan ide, tetapi faktor emosi juga akan sangat memengaruhi. (*)

Minggu, 18 Juli 2010

PEMBELAJARAN AKTIF

MENGAKTIFKAN SISWA DALAM BELAJAR (PEMBELAJARAN AKTIF)
Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional, sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif ke model pembelajaran aktif.

Merujuk pada pemikiran L. Dee Fink dalam sebuah tulisannya yang berjudul Active Learning, di bawah ini akan diuraikan konsep dasar pembelajaran aktif. Menurut L. Dee Fink, pembelajaran aktif terdiri dari dua komponen utama yaitu: unsur pengalaman (experience), meliputi kegiatan melakukan (doing) dan pengamatan (obeserving) dan dialogue, meliputi dialog dengan diri sendiri (self) dan dialog dengan orang lain (others)
Model Pembelajaran Aktif
Dialog dengan Diri (Dialogue with Self) :

Dialog dengan diri adalah bentuk belajar dimana para siswa melakukan berfikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang atau harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya. Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (thinking about my own thinking)”, dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas, dan tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata.

Dialog dengan orang lain (Dialogue with Others) :

Dalam pembelajaran tradisional, ketika siswa membaca buku teks atau mendengarkan ceramah, pada dasarnya mereka sedang berdialog dengan “mendengarkan” dari orang lain (guru, penulis buku), tetapi sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan dan pertukaran pemikiran. L. Dee Fink menyebutnya sebagai “partial dialogue“

Bentuk lain dari dialog yang lebih dinamis adalah dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil (small group), dimana para siswa dapat berdiskusi mengenai topik-topik pelajaran secara intensif. Lebih dari itu., untuk melibatkan siswa ke dalam situasi dialog tertentu, guru dapat mengembangkan cara-cara kreatif, misalnya mengajak siswa untuk berdialog dengan praktisi, ahli, dan sebagainya. baik yang berlangsung di dalam kelas maupun di luar kelas, melalui interaksi langsung atau secara tertulis.

Mengamati (Observing) :

Kegiatan ini terjadi dimana para siswa dapat melihat dan mendengarkan ketika orang lain “melakukan sesuatu (doing something)” , terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya. Misalnya, mengamati guru sedang melakukan sesuatu. Misalnya, guru olah raga yang sedang memperagakan cara menendang bola yang baik, guru komputer yang sedang membelajarkan cara-cara browsing di internet, dan sebagainya,

Selain mengamati peragaan yang ditampilkan gurunya, siswa juga dapat diajak untuk mendengarkan dan melihat dari orang lain, misalnya menyaksikan penampilan bagaimana cara kerja seorang dokter ketika sedang mengobati pasiennya, menyaksikan seorang musisi sedang memperagakan kemahirannya dalam memainkan alat musik gitar, dan sebagainya. Begitu juga siswa dapat diajak untuk mengamati fenomena-fenomena lain, terkait dengan topik yang sedang dipelajari, misalnya fenomena alam, sosial, atau budaya.

Tindakan mengamati dapat dilakukan secara “langsung” atau “tidak langsung.” Pengamatan langsung artinya siswa diajak mengamati kegiatan atau situasi nyata secara langsung. Misalnya, untuk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak langsung mengunjungi bank-bank yang ada di daerahnya. Sedangkan pengamatan tidak langsung, siswa diajak melakukan pengamatan terhadap situasi atau kegiatan melalui simulasi dari situasi nyata, studi kasus atau diajak menonton film (video). Misalnya unruk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak menyaksikan video tentang situasi kehidupan di sebuah bank.

Melakukan (Doing):

Kegiatan ini menunjuk pada proses pembelajaran di mana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata. Misalnya, membuat desain bendungan (bidang teknik), mendesain atau melakukan eksperimen (bidang ilmu-ilmu alam dan sosial), menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal (sejarah), membuat presentasi lisan, membuat cerpen dan puisi (bidang bahasa) dan sebagainya. Sama halnya dengan mengamati (observing), kegiatan “melakukan” dapat dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung

Terkait dengan upaya mengimplementasikan konsep di atas, L. Dee Fink menyampaikan 3 (tiga) saran, sebagai berikut:

1. Memperluas jenis pengalaman belajar.
  • Buatlah kelompok-kelompok kecil siswa dan meminta mereka membuat keputusan atau menjawab sebuah pertanyaan terfokus secara berkala.
  • Temukan cara agar siswa dapat terlibat dalam berbagai dialog otentik dengan orang lain, di luar teman-teman sekelasnya (di website, melalui email, atau dalam kehidupan nyata).
  • Dorong siswa untuk membuat jurnal pembelajaran atau portofolio belajar. Guru dapat meminta para siswa untuk menuliskan tentang apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa peran pengetahuan yang dipelajarinya untuk kehidupan mereka sendiri, bagaimana hal ini membuat mereka merasa, dan sebagainya.
  • Temukan cara untuk membantu siswa agar dapat mengamati sesuatu yang ingin dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Temukan cara yang memungkinkan siswa untuk benar-benar melakukan sesuatu yang dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Mengambil manfaat dari “Power of Interaction.”

Dari keempat bentuk belajar di atas, masing-masing memiliki nilai tersendiri, tetapi apabila keempat bentuk belajar tersebut (Dialogue with Self, Dialogue with Others, Observing, dan Doing) dikombinasikan secara tepat, maka akan dapat memberikan efek belajar yang lebih kaya kepada para siswa.

Para pendukung Problem-Based Learning menyarankan kepada para guru untuk mengawalinya dengan kegiatan “Doing”, dimana guru terlebih dahulu mengajukan berbagai masalah nyata (real problem) untuk diselesaikan oleh siswanya. Kemudian, siswa diminta untuk berkomunikasi dan berkonsultasi dengan rekan-rekan sekelompoknya (Dialogue with Others) untuk menemukan cara-cara terbaik guna memecahkan masalah nyata yang telah diajukan. Setelah para siswa saling berkomunikasi dan berkonsultasi, selanjutnya para siswa akan melakukan berbagai macam bentuk belajar sesuai pilihannya, termasuk didalamnya melakukan Dialogue with Self dan Observing.

3. Membuat dialektika antara pengalaman dan dialog.

Melalui pengalaman (baik melalui doing dan observing) siswa memperoleh perspektif baru tentang apa yang benar (keyakinan) dan apa yang baik (nilai). Sementara melalui dialog dapat membantu siswa untuk mengkonstruksi berbagai makna dan pemahamannya.

Untuk menyempurnakan prinsip interaksi sebagaimana dijelaskan di atas yaitu dengan melakukan dialektika antara kedua komponen tersebut. Dalam hal ini, secara kreatif guru dapat mengkonfigurasi dialektika antara pengalaman baru yang kaya dan mendalam dengan dialog yang bermakna, sehingga pada akhirnya siswa benar-benar dapat memperoleh pengalaman belajar yang signifikan dan bermakna

Kamis, 19 November 2009

Guru Miskin Altruisme

Altruisme diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan pada kebaikan orang lain. Dari kata Latin alter, artinya orang lain. Menurut Abdul Muâ?Tti Altruisme merupakan ajaran universal  semua agama. Bangsa Indonesia  memiliki budaya gotong-royong  sebagai warisan agung nenek  moyang.  Pendidikan keluarga dan sekolah  merupakan dua pilar yang berperan  penting dalam membangun jiwa altruisme. Seorang profesional selalu dimotivasi oleh keinginan mulia berbuat baik. Istilah baik di sini berarti berguna bagi masyarakat. Aspek ini melengkapi pengertian baik dalam mentalitas pertama, yaitu mutu. Baik dalam mentalitas kedua ini berarti goodness yang dipersembahkan bagi kemaslahatan masyarakat. Profesi seperti guru, dokter, atau advokat memang jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat. Mutu kerja seorang profesional tinggi secara teknis, tetapi nilai kerja itu sendiri diabdikan demi kebaikan masyarakat yang didorong oleh kebaikan hati, bahkan dengan kesediaan berkorban. Inilah alturisme (Sinamo, 2008)

Perilaku Guru

Dalam leksikon Jawa, guru umumnya ditafsirkan sebagai akronim dari ungkapan �bisa digugu lan ditiru. Ini artinya bahwa sosok guru adalah orang yang dapat dipercaya atau dipegang teguh kebenaran ucapannya dan dapat diteladan tingkah lakunya. Di balik ungkapan itu, tersirat paham atau setidak-tidaknya asumsi bahwa apa yang dilakukan, dikatakan, dan diajarkan guru adalah benar. Guru sangat dipercaya sehingga jarang orang mempersoalkan ajarannya.

Guru dianggap sebagai profesi yang mempunyai keutamaan moral. Karena itu, jika orang membutuhkan nasehat atau pertimbangan, pergilah ia ke guru. Karena dipandang sebagai teladan, guru sangat dihormati masyarakat. Guru merupakan profesi yang bergengsi. Kemudian, menjadi guru adalah kebanggaan. Begitulah kiranya pandangan tentang guru, tempo doeloe.

Asumsi tempo dulu bahwa ucapan dan ajaran guru selalu benar telah mengalami pergeseran. Dewasa ini, ungkapan guru sebagai â?yang bisa digugu dan ditiruâ? agaknya sudah usang dan mengalami peyorasi. Jika muncul pemakaian ungkapan itu, seringkali justru untuk menyatakan perasaan tidak puas terhadap perkataan atau prilaku guru, atau dipakai sebagai semacam â?oumpatanâ? kepada guru.

Sebuah istilah yang menjadi slogan guru sebagai cerminan bagi anak didik " guru kencing berdiri murid kencing berlari, memberikan pesan moral kepada guru agar bertindak dengan penuh pertimbangan. Ketika guru menanamkan nilai dan contoh karakter dan sifat yang tidak baik, maka jangan salahkan murid ketika berprilaku lebih dari apa yang guru lakukan. Seperti kelakuan bejat guru ketika membocorkan jawaban Ujian Nasional sebagai upaya menolong kelulusan anak didiknya. Memang murid pada saat itu senang, karena mendapatkan jawaban untuk mempermudah mereka lulus. Akan tetapi, saat itu juga guru telah menanamkan ketidakpercayaan murid terhadap guru. Dan pada saatnya nanti, mereka akan jauh berbuat lebih bejat lagi ketimbang saat ini yang guru mereka lakukan.

Guru yang profesinya sangat mulia, pendidik nurani bangsa idealnya senantiasa ditiru dan digugu oleh anak didik dan masyarakat. Kalaulah apa yang dilakukan oleh guru dan pihak sekolah adalah tindakan keterpaksaan yang diperintah oleh kepala dinas pendidikan atau kepala daerah mungkin itu masih lumayan. Tapi, kalau demi menaikkan gengsi sekolah, demi menutupi kebodohan mengajar dengan membantu anak didik agar lulus, apakah itu pelecehan dan pembunuhan terhadap potensi anak didik? Dan dimana hati nurani guru sebagai teladan ? bukankah ini merupakan prilaku memberikan contoh kejahatan, dan tindakan seperti itu menanamkan benih potensi tindakan korupsi

Mental korupsi telah dibentuk oleh guru sejak generasi bangsa duduk di bangku sekolah. Parahnya lagi, yang membentuk karakter itu adalah guru sendiri. Padahal seyogyanya gurulah yang punya peran sentral untuk membersihkan mental koruptor dalam jiwa anak didik. Guru adalah tempat strategis untuk membentuk kepribadian anak bangsa. Jika karakter guru mengarah pada hal yang buruk, maka anak didik yang terbentuk pun akan tidak jauh dari karakter guru. Tapi sebaliknya. Kebiasaan memberikan bocoran jawaban kepada anak didik, berarti telah mengajarkan anak didik untuk korupsi. Kelak ketika anak didik itu menjadi pemimpin, maka tidak menutup kemungkinan dia akan membocorkan dana atau kebijakan yang lainnya.

Guru yang Digugu dan Ditiru

Rumitnya problema kehidupan menentang tiap guru yang mencoba-coba menjalankan "pendidikan moral". Kalau seperti para filsuf positivis, sang guru percaya bahwa hanya Prinsip-prinsip sajalah yang mungkin diajarkan disertai alas an-alasan bernalar, sang guru masih harus menentukan prinsip-prinsip mana yang bisa dijadikan bermakna bagi anak-anak kontemporer (Maxine Greene). Guru mesti menentukan terlebih dulu tindakan-tindakan mana yang mempunyai "gema moral". Karena setiap tindakan guru akan menjadi cerminan anak didik yang melihatnya. Slogan "guru digugu dan ditiru" merupak represantasi dari komunikasi prilaku guru dengan murid setiap harinya

. Tantangan dalam kehidupan guru memang tidak mudah. Hidup dengan gaji kecil, sarana dan prasana pendidikan minim, fasilitas yang mengundang air mata, terkadang dicaci maki dan disumpahserapahi kalau ada apa-apa dengan pendidikan. Pokoknya derita guru adalah tumpukkan kesedihan. Tetapi, tetap tegar berjuang demi profesi mulia. Terlalu murah bila digadaikan dengan kecurangan demi UN. Di akhirat nantinya akan diadili pula karena curang. Lebih parah lagi tanaman psikologis. Bila anak didik berhasil karena tindakan curang guru, UN lulus dengan curang, masuk perguruan tinggi pakai joki, mendapatkanpekerjaan dengan menjogok dan cara-cara curang lainnya. bagaimana kalau dia nantinya menjabat posisi strategis di struktur pemerintahan negera kita.

Jadi, saatnya pendidikan Nasional dibersihkan dari guru-guru yang berwatak koruptor dan preman. Mari tinggalkan korupsi pendidikan dan mendidik peserta didik korupsi sejak si bangku sekolah. Yang seharusnya kita kampanyekan kepada anak didik justru pendidikan antikorupsi. Selayaknya posisi guru di barisan terdepan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan antikorupsi, pendidikan anti curang pun digalakkan. Tentunya yang harus diperhatikan dan dibangun adalah mental guru-guru dan pihak sekolah yang lainnya.

Guru yang mempunyai jiwa idealis terhadap nilai-nilai luhur moral, dia akan senantiasa berlaku jujur terhadap semua apa yang dilakukan. Dalam menghadapi UN sebenarnya guru harus proaktif untuk memberikan mutivasi belajar dan mensupport agar anak didik siap menghadapi Ujian Nasional. Sifat sportifitas dan kompetitif yang ditanamkan didalam mental anak didik, akan mencerminkan prilaku mereka kelak ketika mereka hidup dilingkungan masyarakat. Apalagi ketika diantara mereka menjadi pemimpin bangsa. Sikap tauladan yang dicontohkan guru terhadap anak didik dalam menghadapi UN lebih memberikan rasa kepercayaan yang tinggi kepada diri sendiri dan kepada orang lain.

Mengatasi Biaya Kuliah Bagi Ekonomi Tak Mampu

Kita sering berada pada situasi yang pelik dalam kehidupan, dimana kita merasakan ketidakadilan, ketidak mampuan, ketidakpantasan, dan banyak lagi hal-hal lain. Atau dengan singkat kata kita merasa ditempatkan pada kondisi dan situasi yang kita sendiri tidak menginginkannya, namun karena suatu hal kita sudah berada di dalamnya. Namun perlu kita ketahui, bila diambil sisi positifnya, hal ini akan membuat kita semakin tangguh, tahan uji dan semakin kuat untuk mandiri.

Saat ini banyak siswa SMA yang lulus dan akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Kampus Biru menjadi tujuan utama namun kursi yang tersedia di perguruan tinggi negeri sangat terbatas. Bagi yang mempunyai tingkat ekonomi lebih atau cukup pasti segala sesuatunya tidak masalah. Nah ini nih, bagaimana bagi orang yang serba setengah ke bawah, dimana segalanya serba setengah setengah, kemampuan ekonomi setengah, kemampuan ilmu setengah , kadang minat juga setengah. Dan yang memiliki minat setengah sering kalah sebelum berperang atau mundur sebelum lihat musuh. Gawat nih teman teman, mudah mudahan nggak ada diantara kita yang memiliki sifat seperti ini ya?. Tetap SEMANGAT dan ANTUSIAS.

Dari masalah di atas, yang paling sering kita alami dan bikin putus asa adalah MASALAH KEUANGAN, dimana orang tua akan menjadi urung untuk maju mendaftarkan anaknya ke perguruan tinggi, bahkan kadang kita minder dan langsung mengalah alias mundur walaupun si anak mempunyai kemampuan dalam arti kepandaian yang cukup alias pinter atau dalam bahasa kerennya IQ tinggi. Kadang si anak langsung mencari kerja dengan gaji ‘Cukup UMR’, yang artinya Cukup untuk Usaha Memiskinkan Rakyat, hihihi (becanda lho) agar bisa bantu orang tua atau kerennya meringankan beban orang tua.

Kesimpulan di atas bukanlah suatu solusi yang tepat. Nah, disini nih saya pengen sekali berbagi pengalaman dengan adik adik sekalian. Pengalaman itu sangat berharga sekali, apalagi kalau dibagi banyak pahalanya lagi.

Kita kembali ke pokok masalah, konon dulu waktu saya kuliah …. hehehehehe, ini bukan dongeng lho, tapi reality live, tentang masa-masa sulit saat kuliah dulu. Saya banyak bergaul dengan teman yang mengalami masalah keuangan, hingga ingin mengambil kesimpulan untuk berhenti kuliah, baik karena orang tua di desa nggak mampu, atau karena udah yatim dan bahkan yatim piatu. Nah ini nih pokok masalahnya, keinginan yang tidak ditindak lanjuti dengan usaha pasti menyerah, yang terpenting kan harus kuat Iman dan kemauan, ya nggak?. Saya memang tidak mengatasi masalah mereka, tapi saya beri solusi agar mereka dapat melanjutkan sekolah mereka, seperti yang saya lakukan bersama adik adik dan saudara saya satu kontrakan, ini benaran lho!.

Solusi yang saya berikan adalah bila punya kemauan, punya cita cita, punya semangat, mau kerja keras dan yang terpenting punya harga diri, tapi yang jelas jangan tinggi ya?, kenapa saya katakan jangan tinggi, adalah agar kamu tidak mengatakan ‘nggak level’, ‘malu’, ‘aduh nggak sempat’, kalau tanggapan yang terlontar seperti ini maka segalanya akan gagal. Tapi kalau semua tanggapan negatif itu kita buang jauh-jauh dari pikiran kita, niscaya cita-citamu dapat dicapai dengan SELAMAT dan SUKSES.

Apa solusi yang akan kita tempuh bila kita tidak punya kemampuan ekonomi, tapi kita punya kemampuan untuk menggapai cita cita yang lebih tinggi?, sebenarnya sangat simpel, yang pertama cari perguruan yang kamu anggap mampu untuk membayar uang pertama alias uang masuk, atau bila perlu usahakan menyicil agar terasa ringan saat usaha masuk di SPMB gagal. Setelah masuk perguruan tinggi, bagi kalian yang ‘kembang kempis’ mengatasi biaya kuliah, masih banyak kokjalan yang bisa ditempuh, semisal melakukan usaha yang tidak mempunyai keterikatan waktu, atau usaha dengan waktu yang dapat menyesuaikan dengan waktu kuliah, contohnya memberi les privat, jualan bahkan usaha K5, bagi yang tak gengsi bisa juga ‘ngojek’ , yang penting usaha halal.

Memberikan les privat di tahap awal memang agak sulit, tapi lama kelamaan akan menjadi asyik, dan rejekinya juga seperti ‘nimbun’, dimana semakin panjang waktu yang kita tempuh semakin banyak yang kita kerjakan, semakin banyakpula hasil yang kita dapat. Jadi yang jelas butuh kesabaran. Hasil yang didapat saya yakin pasti cukup untuk menutupi biaya kuliah, tinggal cara kita untuk mengatur manajemen keuangan kita, agar nggak mengalami kegagalan, oke…?! SUKSES PASTI!.

Yang kedua yaitu mencoba berjualan, hm.. kamu pasti berpikir butuh modal besar, nggak perlu dulu sampai tahap kesana, tahap awal adalah tahap pembelajaran, jika memang kamu tidak punya modal, bisa mulai kecil-kecilan dengan jual jagung bakar atau pisang penyet atau gorengan atau apapun namanya yang penting modal awal dapat terpenuhi. Jangan berpikir mencari omzet, yang penting biaya kuliah dan hidup sehari hari tercukupi. Baru deh, setelah usahamu mapan selanjutnya bisa berpikir tentang omzet, Oke?!. Perlu diingat, yang penting jangan gengsi, dan tetep punya keinginan dan harga diri sepantasnya, yang penting usaha halal 100%. Dan sekali lagi mengingatkan, manajemen keuanganmu harus benar benar di jaga, agar semua dapat berjalan dengan baik.

Nah bagi kamu yang kurang mampu untuk hal diatas, kamu bisa bisa mencoba usaha yang lebih simpel asal kesampingkan dulu rasa malu dan gengsimu, kamu bisa ngojek, narik becak dengan cara sewa alat atau kerja part timer di warung, restoran, atau kerjaan lain yang tidak bersinggungan dengan waktu kuliah. Sekali lagi yang penting halal, oke..?!

Saya yakin bagi adik adik yang mengalami kesulitan ekonomi untuk membiayai kuliah PASTI BISA kuliah bila adik adik punya kemauan untuk SUKSES . Hal ini sudah saya pernah saya jalani bersama rekan rekan saya, hingga semua tamat S1 perguruan tinggi negeri maupun swasta. Yang penting jangan sekali kali ninggalin bangku kuliah karena malas, atau bosan. Oiya, untuk fasilitas kuliah misalnya komputer dan lainnya apabila kamu pintar bergaul, tidak sok, selalu berbuat baik untuk semua hal dan yang penting selalu berbesar hati, teman teman kamu pasti siap membantu untuk alat alat tersebut, kamu hanya cukup menjaga tanggung jawab dan kepercayaan mereka terhadapmu.

Nah gimana adik adik yang merasa tak mampu, siapkah kamu untuk berjuang?. Hal diatas adalah pengalaman saya dulu saat berada dibangku kuliah. Saya, adik adik dan teman teman saya dulu pernah mengalami menjadi tukang becak, kernet bus, loper koran, jual jagung bakar, jual pisang penyet, jual makanan untuk sarapan pagi, jual es, jadi tukang foto copy. Alhamdulillah, semuanya pada akhirnya sukses. Alhamdulillah, berkat kerja keras membiayai sendiri kuliah sendiri, akhirnya bisa lulus dan bekerja layak, baik di instansi pemerintah, swasta, bank maupun BUMN. Oke, TETAP SEMANGAT TEMAN!

Sekian dulu cerita pengalaman saya, semoga semangat kamu terbangun kembali. Ingat, berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian, bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian.

Akhir kata tetap semangat dan tetap berjuang, pantang mundur apalagi menyerah, SUKSES buat kita semua. PASTI BERHASIL KAWAN, TETAP SEMANGAT dan ANTUSIAS.

Sampai jumpa!

Bahaya Pergaulan Bebas

Semakin tingginya frekuensi arus globalisasi di era industrialisasi yang sudah mengglobal serta arus modernisasi dan sekularisasi sangat berpengaruh besar terhadap pergaulan bebas dengan lain jenis (kumpul kebo), baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Kondisi semacam ini juga sangat mempengaruhi terhadap ideologi masyarakat, sehingga ada sebagian mereka beranggapan, kalau tidak bergaul dengan selain jenis maka di nilai ketinggalan zaman. Inilah salah satu dampak arus globalisasi. Oleh karena itu, dalam kondisi semacam ini manusia di tuntut untuk lebih berhati-hati dalam bertindak.
Kalau kita lacak secara fenominal bahwa pergaulan di masa sekarang- di berbgai tempat-khususnya di perkotaan- seakan-akan sudah menjadi bagian kultur yang di akui keberadaannya dan tidak bisa di hindari lagi, bahkan di anggap hal yang biasa-bisa oleh kalangan remaja.
Padahal kalau di lihat di lapangan, pergaulan ini sangat meresahkan masyarakat, bahkan kalau kalangan remaja terus di biasakan hal semacam ini tanpa ada kesadaran dan pendidikan yang berorientasikan pada moral maka bagaimana dengan bangsa yang akan datang.
Sangat tragis, ternyata pergaulan bebas itu tidak hanya sebatas bergaul melainkan terkadang mendorong untuk melakukan hal yang lebih tidak di sukai oleh agama, seperti, bercumbu rayu, berciuman dan bahkan terjebak dalam perzinahan. Oleh karena itu, tanpa ada sekat-sekat pembatasan antara wanita dan laki-laki yang bukan muhrim maka dampak dan bahayanya seperti itu.
Kalau dalam ajaran islam, pergaulan bebas itu tidak di perbolehkan, bahkan melihat wanita yang bukan muhrim tanpa ada maksud-maksud yang di perbolehkan jug tidak boleh. Semisal saling melihat dan lainnya. Karena hal itu merupakan awal untuk melangkah pada garis selanjutnya seperti janjian dsb. Islam membolehkan bergaul dengan wanita yang bukan muhrimnya apabila ada alasan yang tepat menurut syariat, seperti ingin mengawini, karena sebelumnya di anjurkan melihat si wanita itu, cocok tidaknya.
Di masa sekarang, di Barat, hususnya di Eropa, pergaulan bebas sangatlah dominan bahkan homo dan lesbian sudah menjadi bagian kultur mereka. Ini tidak asing lagi di mata mereka, tapi ini sangat meresahkan masyarakat di sana sebab kasus aborsi di sana makin hari makin meningkat. Ini adalah gambaran dari pengaruh dan bahaya pergaulan bebas.
Secara mendasar ternyata hal semacam ini karena kebebasan di artikan bebas secara mutlak tanpa ada butir-butir aturan yang menjaga jarak antara mereka. Di sadari atau tidak kita harus menjaga jarak dalam pergaulan terutama pergaulan dengan lain jenis. Semoga Allah melindungi kita. Amin

Jumat, 23 Oktober 2009

Jangan Khawatir PAKEM

Penerapan PAKEM di sekolah binaan MBE sudah dimulai sejak tahun 2003. Sekolah dan guru berusaha merancang pembelajaran, mengelola kelas, dan membimbing siswa dengan mengedepankan ekplorasi terhadap kemampuan siswa. Pembelajaran ini lebih mengutamakan proses dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan.

Namun kegalauan guru masih sering muncul terhadap para siswanya, khawatir para peserta didik kalah berprestasi dengan sekolah yang belum menerapkan PAKEM dan menekankan target materi dalam kegiatan pembelajarannya. Alasan utama, apakah dengan metode yang baru ini siswa mampu menghadapi ujian akhir untuk kelas 6 yang pada tahun 2005/2006 ini akan diadakan UAN (Ujian Akhir Nasional).

Belum lagi menghadapi agenda dari Dinas Pendidikan yang digelar setiap tahun. Mulai lomba siswa berprestasi, lomba mata pelajaran, olimpiade MIPA, dan lain-lain. Sejauh ini kekhawatiran itu terbantah dengan kenyataan yang ada di sekolah kami. SD Negeri Ploso 1 Kecamatan Pacitan salah satu SD yang menjadi binaan MBE, sejak awal telah berbenah menerapkan MBS, PSM, dan PAKEM bersama sekolah binaan lainnya.

Sebagai sekolah yang menerapkan PAKEM, prestasi siswa dalam ulangan semester bersama tidak mengecewakan. Terbukti ada kemajuan yang ditandai meningkatnya nilai rata-rata anak disetiap jenjang kelas. Untuk kelas awal, kelas satu dan dua peningkatan ini cukup signifikan. Dalam event-event regulerpun seperti lomba mata pelajaran dan seleksi siswa berprestasi selalu menggembirakan.

Sebagai contoh pada olimpiade MIPA tahun 2005 ini, "Hamidah Budhi Amarta" berhasil meraih medali perunggu olimpiade MIPA Propinsi Jawa Timur. Dan yang lebih penting suasana Proses Belajar Mengajar di kelas menjadi lebih hidup. Anak-anak menjadi kritis, kreatif, dan berani bertanya kepada guru jika ada hal yang belum dipahami. Penugasan siswapun sangat kontekstual dengan ditunjang pemanfaatan sumber belajar yang ada dilingkungan sekolah

Kamis, 10 Juli 2008

PROFIL KEPALA SEKOLAH

Menyadari akan potret diri yang berat untuk beraksi di depan anak negeri, Drs. MUSLIMIN, M.Si selaku pengemudi sekolah mencari teman untuk bermitra. Direngkuhnya tokoh ternama untuk menggapai cita-cita. Pilihan utama jatuh pada La Unga Setti. Di pundak La Unga Setti inilah seluruh warga sekolah berharap agar visi dan misi sekolah dapat diolah. Maka istilah komite yang telah diundangkan dalam kolam pendidikan tersandang di dada La Unga Setti. Dari sinilah pisau harapan ditancapkan oleh Drs. MUSLIMIN, M.Si. Bersama Beliau, Drs. MUSLIMIN, M.Si menari dengan selendang sutranya seraya berkata bagaimana menyeberangkan cita anak kita menuju dunianya. Bersama Beliau, Drs. Muslimin, M.Si menyanyi dengan lagu khas Bugis agar nadanya menyentuh nurani para orang tua yang mulai luntur pada pilar-pilar pendidikan bersama. Lagi-lagi bersama Beliau, Drs. Muslimin, M.Si memainkan musik kecapi dengan harap nada dasarnya terdengar oleh seluruh orang tua siswa agar bangkit emosi jiwanya ikut memainkan kecapi pendidikan sang putra tercinta.Bersama komponen guru dan tenaga kependidikan, Drs. Muslimin, M.Si selaku masinis SMP Negeri 1 Tellu LimpoE ini memainkan fungsi kemitraan sejati dengan prinsip menyatu dalam kebersamaan. Kunci prinsip Beliau ini di antaranya: tidak membedakan status dan fungsi; tanggung jawab tupoksi dalam distribusi komunikasi; kerja sama; pendampingan; setia pada siklus manajemen mulai perencanaan, penerapan, pengamatan, evaluasi, dan analisis. Kesulitan yang menimpa warga sekolah akan dihahadapi secara bersama-sama. Keorganisasian yang tercipta dioptimalkan dalam penerapan pengelolaan. Dan pembantu kepala sekolah menjadi motor pengerak denyut pembelajaran.Berbekal pada pengorganisasian ini, sebuah perubahan yang diidamkan Drs. MUSLIMIN, M.Si dan seluruh warga sekolah mulai menggejala. Bila sebelumnya kehadiran guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas berjalan tanpa kontrol dan selalu menolak untuk dipantau, maka dua tahun terakhir, muncul sebuah kerinduan mendalam pada diri guru bila dalam penerapan pembelajaran di kelasnya tidak pernah ada yang mengontrolnya. Jangan heran kalau para guru mendengar bahwa di sekolahnya kedatangan tamu, dengan serta merta terkait langsung untuk kemajuan pendidikan, maka tamu itu akan diserbu dengan tawaran agar siap bergabung di kelasnya dan siap memberikan masukan bermakna demi pengembangan pembelajaran selanjutnya. Menyelasarkan Nada SumbangKomposer handal selalu peka dengan suara, nada, dan irama seluruh instrumen dalam jajaran orkestra. Kepekaan komposer menjadi kunci keberhasilan dalam simponi. Tidak hanya lima indra tercurah dalam pengorganisasian agar memperoleh keterpaduan berbagai ragam instrumental. Indra keenam yang menyangkut nilai rasa pun turut ambil bagian.Drs. MUSLIMIN, M.Si tepat dijuluki kompuser di SMP Negeri 1 Tellu LimpoE ini. Beliau memang belum sekaliber Erwin Gotawa yang mampu menyanyi seluruh suara, nada, dan irama dalam alunan musik orkestra yang membimbing Siti Nurhaliza hingga di manca negara. Drs. MUSLIMIN, M.Si juga belum sebanding Winarno Surakhmat yang dengan puisinya bisa menusuk relung hati Bapak Yusuf Kalla dalam membangkitkan emosi untuk peduli pada anak bangsa melalui pengelolaan pendidikan. Namun, Drs. MUSLIMIN, M.Si telah berhasil mengelola sumbangnya nada di jenjang sekolah tercintanya. Resep yang digunakan untuk mengolah permasalahan demi kemajuan ditapaki melalui alur rutinitas tatap muka dengan seluruh warga sekolah. Dikembangkan kebebasan bersuara demi kemajuan bersama. Dideteksi dari dini perilaku seluruh siswa melalui tangan-tangan halus guru-guru kelas yang memegangnya. Diberikan sentuhan khusus pada anak yang cepat emosi, suka mengadu, bahkan hiper di antara sebayanya. Tentang administrasi guru, dikelolanya berdasar kebutuhan dengan sentuhan kebapakan menuju pada kreativitas dan perubahan pembaruan yang luwes. Menampung Hasrat di Tengah RehatSub judul ini tampil sebagai bukti atas greget Drs. MUSLIMIN, M.Si dalam pengelolaan sekolah berwawasan kemitraan. Di tengah-tengah waktu istirahat yang relatif singkat, pasukan Drs. MUSLIMIN, M.Si, para guru pengendali kelas di sekolah ini, siap beraksi memacu hasrat. Tak ada kata tidak bisa bila semua dilakukan dengan ceria dan niat mulia. Upaya peningkatan prestasi bisa ditata dalam berbagai situasi dan suasana. Tantangan menuju puncak dibangkitkan oleh respon anak yang galak. Maka cepat tepat menjadi pilihan mujarab untuk mengisi istirahat melayani hasrat.Cepat Tepat mengisi waktu istirahatGambaran kreativitas yang dibarengi kemauan kebersamaan untuk meraih yang dicitakan telah berangsur menjadi budaya di sekolah ini. Budaya lain yang berkembang dalam proses pembelajaran adalah perubahan kultur belajar di kelas dari konsep mengajar ke arah belajar.Ada nuansa memikat dalam mengubah proses pasif menuju proses aktif. Nuansa dimaksud adalah pudarnya budaya kekang bergeser pada kebebasan berpendapat. Rasa malu, rasa takut, rasa segan menjelma ke keberanian berlogika dan berdasar. Gambar berikut adalah bukti nyata kebebasan di kelas dalam sebuah proses pembelajaran.









Greget kreativitas atas indahnya ber-PAKEM dalam proses pembelajaran di seluruh kelas adalah makna yang dirasa jajaran guru atas manfaat yang pernah didapat melalui pelatihan singkat. Manfaat yang mulai terpatri pada jiwa guru adalah pengalaman belajar mengajar yang mampu mengubah perilaku ke arah menyenangkan dan berguna. Masukan dari pihak luar selalu menjadi modal dalam pengembangan diri untuk melakukan pembaruan dalam kinerja. Merasa bahwa sebagian kecil dari kinerjanya telah memiliki makna, maka jajaran guru di SMP Negeri 1 Tellu LimpoE ini memasuki siaga satu untuk mengimbaskan pengalaman yang diperolehnya pada saudara seperjuangannya melalui rembug bersama. Kelompok Kerja Guru Mata Pelajaran (MGMP) adalah media paling tepat dalam menyalurkan pendapat. Di sanalah sejumput aksi dan inovasi dibeberkan sebagai tanggung jawab moral atas ilmu bermanfaat untuk memasuki maslahat. Strategi dan teknik ini dijalani sebagai bagian penerapan atas makna hakiki. Model terprogram yang ingin selalu dibudayakan kepada rekan sejawat dalam praktik cukup banyak. Pertama, contoh penerapan pembelajaran sehari-hari. Kedua, teknik pengimbasan pada semua rekanan dalam pertemuan gugus. Ketiga, cara mengupayakan komunikasi antara siswa dan orang tua. Keempat, upaya melakukan dialog dengan pihak luar baik lembaga pemerintah, swasta, maupun pihak lainnya.